Kontroversi Pusat Informasi Majapahit, telah menimbulkan polemik di masyarakat. Pada terbitan Kompas, tanggal 4 Desember 2008, ditampilkan masalah Situs Trowulan, dan disebutkan bahwa Situs Trowulan rusak oleh Pembangunan Informasi Majapahit yang didesain oleh arsitek Baskoro Tedjo. Pada artikel itu dimuat beberapa gambar yang tidak menggambarkan desain Baskoro Tedjo yang sebenarnya. Hal itu bisa terjadi, karena tidak ada konfirmasi/wawancara dengan Baskoro Tedjo. Hal ini telah menggiring opini masyarakat ke arah yang kurang proporsional, karena kurangnya data yang muncul di media mengenai permasalahan yang sebenarnya. Dari berbagai pemberitaan baik dari media cetak, media berita digital, blog dan komentar yang tercantum di dalamnya, juga dalam forum, dan mailing list arsitektur dan kebudayaan, terdapat beberapa masalah/pertanyaan yang akan dijawab saat ini.
Apakah Masterplan Majapahit Park di desain oleh Baskoro Tedjo?
Baskoro Tedjo tidak mendesain Masterplan Majapahit Park. Masterplan Majapahit Park didesain oleh Tim Budpar sejak tahun 2004 dan selesai pada tahun 2007 (tim masterplan) yang mengacu kepada Masterplantahun 1986. Baskoro Tedjo mulai terlibat, saat awal Maret 2008 dipanggil oleh Menbudpar untuk membuat alternatif desain dari Pusat Informasi Majapahit (di Masterplan zona L). Sebenarnya desain Pusat Informasi Majapahit sudah ada, bangunan tiga lantai berarsitektur Joglo. Menbudpar mengundang Baskoro Tedjo karena sudah pernah melihat beberapa karyanya (diantaranya perpustakaan Bung Karno) dan memerlukan masukan desain.
Walaupun ilmu arsitektur juga bersentuhan dengan ilmu arkeologi (misalnya sejarah arsitektur), namun masalah arkeologi tetap merupakan ranah arkeolog. Mengingat desain Masterplan 2007 telah disusun oleh para arkeolog dari berbagai institusi perguruan tinggi, Baskoro Tedjo memilih berkonsentrasi penuh pada bangunan yang ditugaskan, karena bangunan yang ditugaskan pun memerlukan riset dan pemikiran yang cukup mendalam karena lokasinya yang sulit.
Mengapa setuju mendesain Pusat Informasi Majapahit?
Satu. Karena sebuah Pusat Informasi itu perlu.
Sesuai dengan hasil Konverensi UNESCO di New Delhi dari tanggal 5 November sampai 5 Desember 1956. Berikut kutipan dari hasil Konverensi UNESCO tentang perlunya sebuah Pusat Informasi atau museum.
Formation of central and regional collections
10. Inasmuch as archaeology is a comparative science, account should be taken, in the setting up and organizing of museums and reserve collections, of the need for facilitating the work of comparison as much as possible. For this purpose, central and regional collections might be formed or, in exceptional cases, local collections on particularly important archaeological sites–in preference to small scattered collections, accessible to comparatively few people. These establishments should command, on a permanent basis, the administrative facilities and scientific staff necessary to ensure the preservation of the exhibits.
11. On important archaeological sites, a small exhibit of an educational nature–possibly a museum–should be set up to convey to visitors the interest of the archaeological remains.
12. The competent authority should initiate educational measures in order to arouse and develop respect and affection for the remains of the past by the teaching of history, the participation of students in certain excavations, the publication in the press of archaeological information supplied by recognized specialists, the organization of guided tours, exhibitions and lectures dealing with methods of excavation and results achieved, the clear display of archaeological sites explored and monuments discovered, and the publication of cheap and simply written monographs and guides. In order to encourage the public to visit these sites, Member States should make all necessary arrangements to facilitate access to them.
Dua. Kerusakan situs di Trowulan sudah sangat masif.
Situs Trowulan sudah terancam oleh kegiatan di sekelilingnya. Penyelidikan arkeologis (yang biasanya membutuhkan waktu) berkejaran dengan perusakan yang terjadi di sekitarnya, seperti yang diungkapkan oleh Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan (Kapuslitbang) Kebudayaan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Debudpar), Junus Satrio mengatakan, aktivitas industri berupa penggalian-penggalian membuat benda-benda peninggalan purbakala dari jaman kejayaan Majapahit ikut terbongkar. Apalagi, situs biasanya terdapat 50-100 cm di bawah permukaan tanah normal. “Munculnya industri bata, ini serius mengancam situs majapahit. Aktivitas mengambil tanah, memisahkan bebatuan dan tanah kemudian dijadikan bata merusak situs,” tutur Junus dalam Seminar Kajian Integratif Perlindungan dan Pengembangan Situs Kerajaan Mapahit di Trowulan yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI), di Depok, Senin (1/12). (Kompas)
Menurut dia, situs ini memang sudah mengalami kerusakan sejak tahun 1990 ketika laju pertumbuhan penduduk terjadi. Kurang lebih ada 4.000 linggan atau kotak penggalian untuk industri bata saat ini. Kehidupan 5.000 keluarga di tempat ini memang sangat tergantung pada industri bata. Di samping itu, upaya membuka lahan pertanian juga menjadi ancaman karena Trowulan cenderung sangat kering pada musim kemarau.
“Kondisi tanah di sana sulit menyimpan air padahal penting untuk persawahan. Akibatnya masyarakat mencari air dengan menggali lapisan tanah untuk mendekati sumber air tanah,” tandas Junus.
Manajer Penelitian dan Pengabdian Masyarakat FIB UI, Agus Aris Munandar, juga mengatakan laju kerusakan lebih cepat dari upaya pelestarian. Hanya sedikit benda-benda peninggalan yang mampu diselamatkan, antara lain wadah dari tanah liat bakar, miniatur rumah terakota, serta batu-batu umpak berhias relief yang disimpan dalam museum di wilayah setempat.
Hal ini yang melatari perlunya dibuat fasilitas yang selain dapat membangkitkan kecintaan terhadap Trowulan, juga dapat memberi kontribusi terhadap perekonomian warga sekitar. Inilah yang melatari diperlukannya Pusat Informasi Majapahit.
Tiga: Terpanggil untuk memberi alternatif terhadap desain bangunan dari Masterplan tahun 2007
Bangunan dalam Masterplan tersebut berbentuk bangunan tiga lantai berarsitektur joglo dengan konsep lantai dasar menggunakan kaca untuk mengekspos situs (luas 3600 m2). Bangunan seperti ini memiliki preseden, antara lain New Museum Acropolis di Yunani (Arsitek Bernard Tsumi). Namun sebelum pembangunan New Museum Acropolis di Yunani, terjadi kontroversi. Bahkan museum ini dituntut oleh ICOMOS, karena bangunannya yang besar dan terdiri dari beberapa lantai sehingga memiliki lebih dari 100 tiang pancang pondasi yang dianggap akan merusak situs.
Belajar dari preseden di atas, muncul dugaan usulan desain bangunan berarsitektur Joglo berpotensi mengakibatkan polemik. Baskoro Tedjo memiliki ide alternatif bangunan satu lantai, yang tentunya pondasinya akan lebih sedikit.
Empat: Ada lampu hijau dari IAI, (ada informasi baru 21 Januari 2009, yang menyatakan bahwa arsitek yang hadir menyatakan bukan diundang sebagai perwakilan IAI, namun sebagai pribadi arsitek yang merupakan pemerhati budaya). Namun Baskoro Tedjo pernah juga diskusi informal dengan rekan-rekan IAI mengenai kekhawatirannya mengenai tidak disayembarakannya PIM.
Awal Maret 2008, Baskoro Tedjo mengusulkan agar diadakan sayembara desain (lihat kronologis), namun tidak disetujui oleh Budpar. Budpar meminta Baskoro Tedjo untuk tetap membuat alternatif dan Ikatan Arsitek Indonesia akan diundang saat presentasi desain untuk dimintai pendapatnya. Saat mempresentasikan bangunan ini pada tanggal 5 Juni 2008 Perwakilan IAI (arsitek pemerhati budaya) juga hadir dan memberi lampu hijau (memberi dukungan sebagai rekan sejawat?) pada penunjukan Baskoro Tedjo sebagai arsitek, (lihat kronologis) walaupun tanpa melalui sayembara. Perwakilan IAI Arsitek pemerhati budaya juga memberi masukan-masukan berharga pada desain tahap awal tersebut, salah satunya untuk mengurangi luasan bangunan. Untuk mengakomodasi masukan tersebut desain kemudian berubah.
Mungkin timbul pertanyaan, mengapa IAI arsitek pemerhati budaya dan Baskoro Tedjo tidak dapat ‘memaksa’ Budpar untuk mengadakan sayembara desain. Hal ini dikarenakan tidak adanya kewajiban untuk mengadakan sayembara desain, dalam Peraturan Pengadaan barang dan jasa pemerintah.Bukan karena Baskoro Tedjo takut kehilangan proyek, karena sebagai arsitek yang hobby mengikuti sayembara (lihat sayembara yang diikuti Baskoro Tedjo)_ walaupun tidak selalu menang_ Baskoro Tedjo termasuk arsitek yang sangat mendukung sayembara.
Mengapa mendesain Pusat Informasi Majapahit di atas situs.
Situs Trowulan berukuran 11 km x 9 km, sudut-sudutnya ditandai oleh empat buah tugu, yaitu tugu badas, tugu klintejero, tugu lebak jagung, dan tugu japanan. Namun sekarang hanya beberapa zona yang sudah diteliti dan dikuasai tanahnya oleh pemerintah. Sedangkan lahan sisanya masih dikuasai masyarakat, berupa tegalan, dan perumahan. Kemungkinan besar, dalam area seluas 11 km x 9 km ini, masih banyak situs yang belum pernah ditemukan atau diteliti. Kondisi situs yang sudah demikian dikepung oleh perumahan dapat dilihat dalam gambar foto udara berikut ini.
Pengusulan Pemindahan Site
Dalam proses desain, ada masukan dari para arkeolog bahwa pada lahan PIM kemungkinan terdapat lapisan budaya (situs). Menanggapi masalah tersebut sempat muncul usulan dari arsitek (Baskoro Tedjo) untuk memindahkan site (lihat kronologis). Namun pada akhirnya situs tetap pada tempat semula karena pemerintah tidak memiliki dana untuk membebaskan lahan lain.
Alternatif apabila Site tidak dipindahkan
Dengan kondisi tersebut, konsep yang mungkin diterapkan ialah museum yang melindungi dan sekaligus mengekspos situs. Tim arsitek mengadakan riset dan mendapat beberapa fakta menarik. Di beberapa situs arkeologi di dunia, ada pendekatan baru dalam manajemen situs arkeologi, yaitu mendirikan museum di atas situs. Konsep ini memungkinkan penelitian arkeologi oleh ahli dapat dilakukan bersamaan dengan memberi akses bagi publik (biasanya dalam bentuk walkway, jembatan-jembatan yang melewati reruntuhan).
Keuntungan dari Museum di atas situs, diantaranya:
- Artefak arkeologi dapat dilindungi dari cuaca
- Artefak arkeologi yang sulit dipindahkan, seperti reruntuhan benteng tua yang apabila dipindahkan dapat mengganggu penelitian arkeologis karena hilangnya lapisan-lapisan tanah di sekitarnya yang dapat menentukan umur dari artefak arkeologi yang dimaksud.
- Hasil rekonstruksi dari reruntuhan dapat dinikmati publik di tempatnya (tidak seperti selama ini, diangkat dan dinikmati di museum) sehingga tidak menghilangkan konteks.
- Pengunjung lebih bisa membayangkan wujud asli dari peninggalan bersejarah. Contoh yang paling spektakuler ialah Museum Makam Qin Shi Huang di Cina (The Tomb of Qin Shi Huang) .
- Membuat situs dapat diakses tidak hanya oleh arkeologis tapi juga oleh publik.
- Dengan menggunakan situs asli dan media-media pendukung lain seperti panel presentasi dan media audio visual seperti film, pendidikan terhadap masyakarat dapat dipresentasikan dengan lebih menarik sehingga dapat menciptakan kecintaan terhadap benda cagar budaya.
- Museum dapat menjadi area pembelajaran tidak hanya bagi arkeologis, tapi juga bagi masyakat luas.
Namun konsep ini masih ditentang oleh arkeolog beraliran konvensional, yang masih beranggapan penimbunan kembali reruntuhan setelah diteliti ialah yang terbaik (lihat referensi metoda penggalian situs konvensional). Bagi arkeolog konvensional, bangunan di atas reruntuhan walaupun hanya berupa struktur temporer akan mengakibatkan adanya elemen struktur (kolom dan pondasi) yang dapat merusak situs.
Keberadaan dua kubu arkeolog di dunia ini dibahas dalam http://www.archaeology.org
Sementara arkeolog yang berbeda kubu, menyetujui adanya intervensi minimal untuk kepentingan pendidikan. Oleh arkeolog yang beraliran non konvensional ini, permasalahan pembangunan di atas situs baik berupa shelter temporer maupun yang lebih permanen seperti museum, masih terus diteliti untuk mendapatkan metoda membangun terbaik, yang memberi intervensi minimal pada situs. Namun mereka pun sangat memperhatikan masalah-masalah yang muncul saat terjadi pembangunan di atas situs, yaitu:
- reversebility, karena sumber daya situs bukan sumber daya yang dapat diperbaharui (sekali rusak maka akan rusak selamanya), maka setiap intervensi harus dilakukan dengan hati-hati dan didokumentasikan sehingga apabila terjadi kesalahan, situs dapat diperbaiki kembali. Sebelumnya juga harus ada kesepakatan bagian mana dari situs yang kurang penting (sehingga dapat dijadikan titik struktur).
- tecnology/cost/maintenance, perlu dicari teknologi yang tepat terutama teknologi struktur sehingga kerusakan pada situs dapat diminimalisasi, namun faktor harga dan perawatan juga perlu dipikirkan dengan matang.
- microclimatic effect, efek mikro dari adanya bangunan harus diteliti sehingga tidak berakibat buruk pada situs. Kasus yang harus dihindari misalnya seperti kerusakan pada gambar-gambar di interior piramid di mesir, yang diakibatkan oleh nafas pengunjung. Di salah satu museum ada yang dilengkapi teknologi pengkabutan untuk menjaga kelembabannya sehingga situs tidak rusak.
- aesthetic compatibility, apabila ada bangunan di atas situs secara estetika harus bagus dan cocok dengan situs yang dilindunginya.
- interpretive function, adanya sarana interpretive, yaitu pemberian informasi kepada publik baik dengan cara konvensional (menggunakan panel) maupun dengan cara multimedia.
- separation of the visitor from the ruin. walaupun akses kepada situs oleh masyarakat untuk kepentingan pendidikan sudah dianjurkan oleh UNESCO, namun pemisahan pengunjung dengan situs diperlukan. Pengunjung apabila tidak diberi fasilitas khusus dapat merusak situs. Seperti Kasus Borobudur, yang dilaporkan bahwa batu candinya sudah mulai tergerus oleh kaki pengunjung. Cara memisahkannya dapat dengan menggunakan jembatan-jembatan sehingga pengunjung tidak menginjak situs secara langsung, atau dibatasi dengan kaca.
Beberapa penelitian yang membahas shelter di atas situs dicantumkan dalam: “The CGI Project Bibliographies Series, Conservation and Management of Archaeological Sites”. Beberapa contoh proyek yang telah diteliti, dan abstraknya dimuat dalam kompilasi tersebut ialah:
- Shelter untuk Mural David Alfaro Siqueiros, Los Angeles
- Petroglyph Site di Petereborough, Canada
- Fishbourne Roman Palace Museum, Inggris
- Plaza Armerina, Sicily, Italia (arsitek Franco Minissi)
- Kara Tepe
- Dinosaur National Monument, Utah
- The Tomb of Qin Shi Huang
- Kisnana, Hungary
- Banpo Museum Xian
- Tonglushan Museum
Selain itu dari hasil riset, ada beberapa preseden mengenai pembangunan di atas situs. Yang menjadi referensi diantaranya:
- Kolumba Museum, di Koln Jerman, arsitek: Peter Zumthor
- Chur Roman Ruin Shelter, di Chur, Swiss, arsitek: Peter Zumthor
- Vesunna Gallo Roman Museum, Périgueux, Perancis, arsitek: Jean Nouvel
- Akrotiri Archaeological Sites, Santorini, Yunani
- The Pointe à Callière (Museum Arkeologi Montreal)
- Museum History of the City, Barcelona
Karena adanya referensi keilmuan (arkeologi) tentang desain bangunan di atas situs, preseden-preseden (karya arsitektur) di luar negeri, juga adanya re-view dari arkeolog saat presentasi karya. Baskoro Tedjo memutuskan untuk tetap mendesain di lahan yang sama. Dengan catatan saran agar seluruh situs dibuka dulu oleh arkeolog sebelum dibangun, untuk menghindari kerusakan terhadap situs penting dan mengupayakan agar pondasi bisa diletakkan di luar situs.
Bagaimana tentang tuduhan merusak situs Trowulan
Tuduhan merusak situs yang dilontarkan ke Baskoro Tedjo baginya akibat dari kesalahpahaman dan pemberitaan tanpa data-data yang valid. Padahal orang pertama yang melaporkan kerusakan situs ke pihak Budpar (Bapak Suroso), ialah Baskoro sendiri (lihat Koran Tempo). Baskoro Tedjo termasuk yang sangat kecewa karena terjadi kesalahan eksekusi di lapangan, sehingga langsung meminta penghentian pembangunan.
Hal lain yang menimbulkan polemik besar ialah kesalahpahaman bahwa masterplan dan desain yang tersebar di media, yang sebenarnya ialah Masterplan Budpar (itupun bukan versi terbaru), yang dianggap sebagai desain Baskoro Tedjo. Untuk melihat perbandingan antara desain Baskoro Tedjo dengan desain Masterplan 2007 klik di sini.
Mengapa belum muncul dalam wawancara di media (Sudah ada wawancara dengan SCTV dan Majalah Tempo)
Sampai saat ini Baskoro Tedjo belum melakukan wawancara, (sekarang sudah ada wawancara oleh SCTV dan Tempo) karena kekhawatiran pernyataanya akan diedit di media cetak. Sementara dengan durasi pendek di media elektronik, besar kemungkinan sulit melakukan penjelasan komprehensif mengenai masalah ini. Maka Baskoro Tedjo memilih untuk memberi informasi melalui media sendiri (blog), setelah itu terserah masyarakat yang menilai. Baskoro Tedjo akan bersedia diwawancara oleh media yang berniat baik untuk cover both sides.
Pro atau kontra, asalkan berdasarkan data-data yang valid (tidak menilai berdasarkan sesuatu yang tidak dia desain) bagi Baskoro Tedjo tidak menjadi masalah. Bahkan arsitek kelas dunia seperti Foster atau Renzo Piano, ketika mendesain di dekat situs bersejarah atau bangunan konservasi lainnya tak lepas dari pro dan kontra. Tidak mungkin seluruh dunia akan menyukai/setuju dengan desain kita. Yang penting, setiap desain dihasilkan dari pemikiran yang matang, dilandasi oleh ilmu pengetahuan dan belajar dari preseden-preseden yang sudah ada.
Kesimpulan
Semua pihak telah mengakui bahwa ada kesalahan dalam pelaksanaan proyek ini, yang diakibatkan ketergesa-gesaan (waktu yang disediakan terlalu pendek). Namun Pihak Budpar telah berniat baik untuk memperbaiki proses ini di masa depan. Adalah tanggung jawab kita bersama untuk menjaga kelestarian situs Trowulan mulai saat ini. Bagaimanapun niat baik untuk mengangkat nama Trowulan, harus tetap kita dukung bersama.
Ke depan selain sayembara arsitektur, diperlukan juga sayembara bagi kontraktor melalui mekanisme proses tender khusus, tidak sekedar memenuhi persyaratan administrasi pemerintah. Kontraktor yang dipilih bukan hanya yang termurah, tapi memiliki kualifikasi khusus dalam membangun di situs konservasi dan mempresentasikan metodanya dalam membangun. Metoda terbaiklah yang dipilih menjadi pemenang. Bahkan kalau perlu bisa menunjuk kontraktor bereputasi internasional yang sudah terbukti berpengalaman dalam membangun di situs konservasi. Kejadian kemarin merupakan pengalaman berharga bagi kita, bahwa tidak bisa memilih kontraktor biasa yang belum berpengalaman dalam membangun di situs konservasi. Masalah reversebility, memerlukan kontraktor yang handal dengan sertifikasi internasional dan didampingi ahli-ahli yang telah berpengalaman dalam membangun di atas situs konservasi.
Lihat juga:
- Salah satu kontraktor Jepang yang mematenkan Ruin Museum.
- Guidelines untuk perlindungan situs arkeologi untuk developer.
Artikel Lain Yang Relevan:
Pembangunan PIM memang mengandung polemik,setelah membaca artikel ini menjadi lebih jelas pokok permasalahan yang sebenarnya.
secara prinsip saya setuju dengan PERLU nya sayembara bagi proyek PIM dan konsep Pembangunan di atas Site merupakan solusi jitu,mengingat situs trowulan belum semuanya di petakan secara akurat dan dari sisi prinsip konservasi konsep ini dapat menekankan tingginya nilai aspirasi terhadap sebuah kawasan situs sejarah beserta ekosistem sekitar
untuk pak baskoro,good luck and sukses
By: john f.papilaya on February 2, 2009
at 6:44 pm